Tuesday, October 25, 2011

Home Alone: Sendiri itu....


Udah genap sepuluh hari aku sendirian di rumah.
Sodara-sodaraku dan beberapa temen masih aja ada yang bilang "ya ampun, rumah itu terlalu besar untuk ditinggali sendiri", "lu pasti udah mulai takut kan?!", "kalo aku pasti udah kabur ke rumah orang lain deh... ini rumah sepi bangeeeeeeeetttt!", dan bahkan ada yang bilang, "bakar aja rumah ini biar rame! Ya Allah...", lengkap dengan adegan menirukan gaya menggigil. Hmmm.... dan --maaf-- aku gak bisa membalas komen-komen itu tanpa nada sedikit nyolot. Habisnya yang mereka bilang itu adalah fakta-fakta yang udah dari dulu memang bgitu adanya. Kali' orang gak bgitu sadar dengan itu dulu... Karena ada tiga, bukan satu. Satu. Untukku?
Itu udah makanan sehari-hari. 

Ya. Rumah ini memang sepi. Ditambah lagi dengan lingkungan yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Sepi itu menjadi semakin tegas.

Di hari-hari biasa, rumah ini dihuni oleh tiga orang. Dan itu cukup membantu. Karena pasti ada gayeng-gayengnya di rumah. Tapi sejak ortu berangkat haji, "sepi" gak lagi mewakili suasana rumah ini. Rumah ini berubah menjadi SUNYI. Gak ada suara keributan rebutan makanan ma ayahku --yup, I'm 25 and my dad is 50-something and we still have fights about food!--. Gak ada suara ibu yang ngingetin aku makan di tengah-tengah aku kerja atau nyuruh-nyuruh ke warung tetangga --5 mins walk--. Sepuluh hari kalimat "ibu, nanti malem kita makan apa?" absen.

Keriuhan itu memang terganti dengan rutinitas baru. Misalnya manasin motor ortu --biasanya kita manasin kendaraan masing-masing-- dan mobil --biasanya kerja'an ayahku--, belanja sayur --yang biasanya dilakukan ibu--, daily house cleaning --sharing antara ibu dan aku--, nyiramin taneman --"jangan sampe ada yang mati ya, dhek", pesen ayahku sang empunya taneman--, dan mengurus urusan makan --mainly my mom's responsibility--. Tapi knapa ya... keriuhan rutinitas baru itu tetep aja cuman sikit mengurangi sunyi-nya rumah ini?

Sekali sunyi itu menyergap, rasa-rasanya susah banget keluar dari itu. Dia membawaku flashback ke banyak moments sunyi yang lain. Dan sebagai anak tunggal dan sering sendirian kemana-mana, sunyi moments ini bukan hal langka buatku --kurasa one of my very best friend wont like this sentence--. Fakta bahwa aku lebih suka kerja --garap kerja'an penelitian dan thesis-- di rumah bikin aku mau gak mau menghadapi kesunyian itu lebih lama. Berada di rumah selama 24 jam beberapa hari belakangan terasa seperti mau bunuh diri.

Momen sunyi di rumah ditambah lagi dengan mellow-nya acara memasak. Biasanya kalo aku masak maka aku masak at least untukku dan ibu jadi gak terasa mubazir masaknya. Tapi karena di rumah cuman ada satu orang aja, jadinya aku masak buat diri sendiri aja. Walida punya hipotesisnya sendiri tentang memasak dan perempuan single. Gini thesisnya "Semakin sering seorang lajang memasak, makin tinggi hasrat menemukan pasangan jiwa". Galau banget ni thesis!! Buat aku acara memasak ini sederhana aja sebabnya.. Aku habis cabut gigi geraham kanan dan akan menjalani operasi gigi geraham kiri dan kondisi badanku yang gleyeng kanan-gleyeng kiri sejak sebelum brangkat ke Berlin. Alhasil aku musti makan yang alus-alus tapi juga "bener" biar gak gleyeng-gleyeng. Sebelum ibu brangkat, kita dah ngobrol-ngobrol urusan makan, ibu setuju kalo aku masak aja untuk diri sendiri dan alternatif itu dipandang lebih ok untuk kondisiku. Paling nasi aja yang beli --itu pun kalo pas pengen makan nasi aja. Kalo dikatakan dalam kalimat lain: Tiara memasak untuk survival. Tapi ternyata, pun untuk survival... acara memasak ini ternyata jadi moment yang mellow... Biasanya ada ibu yang bilang, "kamu kalo masak kok rasanya "datar" to? Bumbunya kuraaaaaang..", atau bapak yang bilang, "ih, makanan apa itu?!" sambil ngelirik masakanku yang biasanya gak masuk dalam daftar seleranya bapak. Hehehe...

Hmmm... dalam sepuluh hari ini... sendiri itu berarti sunyi. Sunyi karena moments yang biasanya ada menjadi tidak ada...
Love you, mom... Love you, dad.. =)



P.S. Makasih untuk Sita yang pernah sekali dateng dan nemenin aku masak dan lunch.. Itu sangat mengurangi ke-mellow-an. Hehehe... =D

P.P.S. Periode 10 hari kedua akan diwarnai dengan tantangan baru: NYUMBANG ke tetangga yang mo punya hajat! Oh God! Please tell me what I should do... *mencari bantuan*

No comments:

Post a Comment