Thursday, February 10, 2011

The Gurus

Aku 24 tahun sekarang dan bulan depan akan genap usiaku seperempat abad. 25 tahun. Perjalanan yang berwarna dan tentu saja bukan cuman aku sendiri yang udah ngasih warna buat idupku. Rasa-rasanya idupku gak akan jadi lebih berwarna dan bermakna kalo gak ada orang-orang yang ada di sekitarku. Orangtuaku. Sodara-sodaraku. Temen-temenku. Segenap mreka yang kukenal. Gak akan jadi jauh lebih berwarna dan bermakna tanpa langit. Tanpa rintik ujan. Tanpa deburan ombak. Segenap apa yang ada di duniaku.

Di usiaku yang sekarang, yang masih sangat muda —menurutku—, ada juga hal lain yang bikin aku makin mensyukuri idup yang udah Tuhan kasih ke aku sampe sekarang. Dan itu adalah orang-orang yang udah ngasih pembelajaran, didikan, arahan, or mentoring ke aku. Mereka yang aku sebut sebagai guru.

Tuesday, February 01, 2011

Cerita Perjalanan Bag 2: XXth Congress of the IACCP

Tulisan ini judul sebenernya adalah "udah kadung janji untuk upload". Udah janji untuk sharing lewat tulisan ke beberapa orang, maka.. di tengah dera'an kemalasan karena topiknya udah out of date banget.. mau gak mau musti upload.. Jadi inilah cerita singkatku selama ikut IACCP..

Friday, January 28, 2011

Prawitasari: B-day greeting for my mentor

Dear buMenuk,

Masih keingetan ketika ibu nerangin makna "prawitasari". "Jalan air. Dari satu tempat ke tempat yang lain," singkatnya gitu ibu bilang ketika itu. Dan seperti itulah buNuk yang kukenal selama ini...

Thursday, January 20, 2011

membebaskan

Kemaren pagi aku dapet email dari mentorku. Gini bunyinya.. "Ya kalimatnya dah pakai hati dan sungguh-sungguh diniati nulis pengumuman, hehehe...". Singkat. Lebih mirip sms daripada email. Tapi kata hati yang digunakan mentorku terus berdengung di kepalaku. Ada apa ya??

Saturday, January 15, 2011

hujan & aku

Menulis. Aku cuman pengen menulis. Gak lebih. Gak tau mau nulisin apa. Pokoknya neken tuts keyboard laptop.
Hm.. darimana perasa’an ini muncul ya? Perasa’an pengen nulis.. pengen menumpahkan sesuatu yang aku sendiri gak tau itu apa.


“Bukankah sering kmu menumpahkan sesuatu, ti?”
“Numpahin air minum maksudnya? Enggak juga..”, menjawab dengan males-malesan.
“Menumpahkan pikiran dan perasa’an, tiara... please..!”
“Ach so... Ya, lumayan.”, datar.
*krik.. krik..* Tiara yang lain males nanggepin lagi.